Laporan Kegiatan Seminar Roadshow DOAJ Relawan Jurnal Indonesia (RJI) Korda Kalimantan Selatan bekerjasama dengan LPPM STIKES Suaka Insan Banjarmasin

Banjarmasin, 19 Oktober 2019

Oleh Panitia ROADSHOW RJI Kalimantan Selatan 2019.

Pengenalan pentingnya indeksasi jurnal

Materi ini disampaikan oleh Ketua RJI korda Kalimantan Selatan, Bapak Dienny R Rahmani.

Pada saat ini, terjadi perubahan besar-besaran dalam bidang publikasi hasil penelitian atau karya ilmiah. Jika dahulu kita masih sangat familiar dengan jurnal versi cetak (Harcopy), pada saat ini kita sudah disuguhkan dengan proses produksi hasil penelitian atau karya ilmiah dalam bentuk online atau daring. Pemerintah kita bahkan sudah meneken peraturan untuk menumbuhkan komunitas open journal system (OJS) dalam manajemen publikasi ilmiah sejak tahun 2014.

Manajemen publikasi ilmiah bukanlah hal yang boleh dipandang sebelah mata saja. Siapapun yang bergerak dalam bidang pendidikan, apalagi penelitian, wajib hukumnya untuk mengenal dan mendalami soal manajemen penerbitan karya ilmiah. Minimal paham dasar-dasarnya. Untuk alasan inilah mengapa Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIKES Suaka Insan menerima tawaran baik dari Relawan Jurnal Indonesia (RJI) KorDa Kalimantan Selatan dalam menyelenggarakan sebuah kegiatan yang kurang lebih dapat dikatakan bertajuk “Manajemen professional pengelolaan jurnal menuju standarisasi”.

Seperti yang banyak diketahui, pengelolaan publikasi jurnal secara lebih professional penting dilakukan oleh semua pengelola jurnal. Hal ini tidak lain dan tidak bukan adalah fokus pada kualitas dari jurnal itu sendiri. Sebuah manajemen jurnal yang berkualitas menunjukkan juga kualitas dari artikel yang dihasilkan oleh jurnal tersebut. Semuanya bekerja saling berhubungan satu dengan yang lainnya.

Sebuah jurnal yang baik, adalah jurnal yang terstandar, banyak orang mengatakan demikian. Tapi, pertanyaannya adalah “Terstandar yang seperti apa ?”.

Salah satu tolak ukur jurnal yang baik adalah indeksasi. Berbicara mengenai indeksasi, dunia manajemen jurnal begitu sangat kompleks dengan ‘indeksasi’ jurnal. Hal ini ada kaitannya dengan kebergunaan, kebermanfaatan penelitian yang dilaporkan oleh peneliti. Sebuah penelitian yang bagus, yang berkualitas akan menarik banyak orang untuk membaca, mengutip dan menceritakannya pada orang lain. Aktivitas membaca, mengutip dan menceritakan pada orang lain ini dinilai sebagai hal yang sangat berharga dalam dunia publikasi ilmiah.

Perlu diingat bahwa pengindeks jurnal itu sangatlah penting, terutama jika ada hubungannya dengan proses sitasi jurnal. Indekisasi jurnal juga ada hubungannya dengan keluasan penyebaran jurnal itu di web, mencapai target pembaca atau mereka yang membutuhkan serta ada hubungannya dengan manfaat jurnal tersebut.

Selanjutnya, indeksisasi jurnal dibagi menjadi tiga bagian penting. Pertama adalah rendah, kedua adalah menengah dan ketiga adlaah tinggi. Hal penting yang membedakan ketiganya adalah “kriteria kualifikasi”. Semakin tinggi tingkat indeksisasi sebuah jurnal, maka semakin banyaklah kriteria kualifikasi yang harus Ia miliki.

Indeksisasi jurnal dapat secara langsung dilihat pada layout jurnal, biasanya terletak di bagian kanan bawah. Manejer jurnal biasanya secara sengaja menempelkan indeksisasi jurnal pada bagian ini untuk memberitahu pengunjung web jurnal bahwa jurnal yang mereka kunjungi masuk ke dalam kelompok jurnal tertentu.

Melihat lebih detil lagi, indeksisasi jurnal yang paling terkenal di Indonesia adalah indeksisasi Google Scholar dan Garuda. Untuk wilayah Indonesia sendiri, Indeks jurnal yang paling penting dan wajib adalah Garuda. Pengelola jurnal perlu dan wajib untuk menyematkan, menggunakan dan memasukkan peng-index jurnal wajib ini.

Directory Open Access Journals (DOAJ)

Materi ini disampaikan oleh Bapak Dedi Rahman Nur.

DOAJ merupakan bagian besar dari gerakan open sciences yang digaungkan di seluruh dunia. Gerakan ini memungkinkan orang satu dan orang lainnya bekerja bersama-sama untuk mewujudkan pengetahuan untuk semua, tanpa batasan tapi masih memikirkan soal originalitas dalam menelurkan sebuah karya. DOAJ sudah ada sejak tahun 2003 dan terus berkembang sampai sekarang. DOAJ memiliki komitmen untuk memberikan layanan dengan mengedepankan kualitas dalam publikasi dan peer-reviewed open access. DOAJ bekerja dalam system yang terorganisir satu dengan yang lainnya.

DOAJ itu sangatlah penting dalam menilai apakah sebuah jurnal sudah masuk ke dalam kelompok artikel yang berkualitas atau tidak. Penting untuk melihat apakah proses indeksisasi sudah mengikuti aturan/jurnal yang berkualitas.

Beberapa tambahan materi yang merupakan hasil dari diskusi (tanya-jawab) antara peserta dan pemberi materi, disimpulkan dalam poin-poin berikut:

  1. Dalam proses manajemen jurnal, pengusulan E-ISSN dengan menggunakan editor dari luar, belum pernah ada pengalaman ditolak. Dalam proses akreditasi, yang kemungkinan perlu diperhatikan adalah profil dari editor tersebut. Proses yang dimaksud adalah minimal profil google scholar yang mengindikasikan jumlah publikasi yang dihasilkan oleh para editor jurnal atau mereka yang bekerja dalam bidang editorial jurnal.
  2. Author pun harus memperhatikan bagian repository jurnal, terutama mengisi bagian ini dengan sangat baik. Bagian repository jurnal biasanya diisi dengan daftar pustaka yang digunakan oleh peneliti untuk menunjang penelitiannya. Kesalahan, kekeliruan dalam penulisan daftar pustaka akan sangat mempengaruhi system untuk melakukan indeksisasi.
  3. Jurnal predator, yang ada/bekerja dengan home base di Indonesia, masih belum pernah ketemu, terutama jurnal yang sudah masuk indeksisasi Shinta. Jurnal yang ada Shinta dan masuk indeksisasi Shinta, sangat kecil kemungkinannya untuk masuk ke dalam list, predator. Pemerintah sendiri sudah menyediakan layanan pengecekan identitas jurnal, apakah masuk ke dalam kelompok predator atau tidak. Author harus memperhatikan dan berhati-hati ketika menemukan jurnal yang berasal dari wilayah India, karena banyak ditemukan jurnal-jurnal yang berasal dari daerah ini yang masuk ke dalam list jurnal predator.
  4. Cara mudah untuk melakukan pengecekan jurnal itu berkualitas atau tidak adalah dengan melakukan pengecekan, 1) siapa editornya, 2) siapa reviewernya, 3) terbit jurnal apakah berkala atau tidak., 4) Jangan bayar dulu artikel yang masih belum siap untuk diterbitkan. Mereka yang minta dibayarkan terlebih dahulu, patut dicurigai, 5) Cek eISSN-nya. Perhatikan dari LIPI, e-ISSN harus sesuai dan terintegrasi dengan system.
  5. Tidak ada jurnal yang melalui fast tract review. Sebuah jurnal harus melewati proses yang panjang dan cukup lama sebelum bisa diterbitkan di sebuah jurnal dengan kualitas yang baik.
  6. Saran untuk author, Ia harus secara eksplisit melakukan pengecekan deskripsi jurnal seperti informasi seputar jurnal. Pengelola jurnal pun tidak boleh hanya sembarangan membuat atau memuat journal basic information dan tidak boleh hanya copy and paste saja.
  7. Website jurnal juga harus dibuat dalam Bahasa Inggris (harus full in English), supaya bisa masuk ke DOAJ. Artikel pun kalau mau, siapkan dalam Bahasa inggris juga, supaya bisa menarik reviewer dari luar juga. Selanjutnya, Pengelola jurnal harus mengurus menu content seperti “Copy right”, per-artikel atau satu dalam nama jurnal. Hal ini sangat penting agar kedepannya nanti tidak menimbulkan konflik yang tidak perlu. 
  8. Pengelola jurnal dapat saja mengerjakan atau memenuhi standart DOAJ terlebih dahulu, baru melakukan/mendaftar untuk indeks Shinta. Kalau sudah terindeks DOAJ, aman kalau ingin mengajukan indeks Shinta.
  9. Mengelola jurnal itu seperti mengelola barang dagangan. Mengerjakan secara sukarela terlebih dahulu, baru kalau sudah sampai tahap akreditasi, baru menerima bayaran/pembayaran.
  10. Jurnal yang ingin dimasukkan kedalam kelompok DOAJ, harus dan perlu mendapatkan DOI untuk masing-masing artikelnya. Hal ini penting karena DOI akan bekerja sebagai identifikasi kebendaaan secara online. Pengurus jurnal dapat mengurus DOI melalui jasa RJI dengan system berlangganan, Rp. 500,000,- pertahun, dan satu dollar untuk satu artikel. RJI bekerja sama dengan layanan dari Crossref dalam menyediakan layanan ini.
  11. Editor jurnal tidak boleh memasukkan artikel jurnalnya di jurnal tersebut, alasan bias/conflict of interest.
  12. Mengurus DOI dengan menggunakan layanan Crossref. Layanannya berbayar, tapi aman. Layanan plagiarism check, dengan menggunakan similarity check, salah satunya Turnitin. 

DOAJ mengharapkan/melihat sudah berapa banyak artikel di-download. DOAJ saat ini banyak dirajai oleh jurnal-jurnal dari Indonesia, hal ini menyebabkan DOAJ menjadi sangat sensitive dengan penelitian-penelitian dari Indonesia. Cara kerja DOAJ adalah dengan menilai artikel-artikel untuk akrediatasi dari awal jurnal online terbit, tidak seperti shinta (yang akan menilai beberapa terbitan artikel kebelakang).

Manajemen pengelolan EJurnal di OJS 2 atau OJS versi 3

Materi disampaikan oleh Tutor RJI, Bapak Fuji Nurdin

Pengelolaan EJurnal dibagi menjadi tiga bagian yang penting, 1) Manajemen Situs, 2) Manajemen Jurnal dan 3) Manajemen Penerbitan. Manajemen situs terdiri dari IT Support/Web Admin. Manajemen Jurnal membutuhkan seorang Journal Manager dan Manajemen Penerbitan memerlukan beberapa orang seperti 1) Editor, 2) Section Editor, 3) Reviewer, 4) Copy Editor, 5) Layout Editor dan 6)Proofreader. Masing-masing bagian ini memiliki tugas dan fungsinya masing-masing yang bekerja secara berkesinambungan dan saling tolong menolong untuk memproses sebuah artikel.

Majemen penerbitan dilalui dengan menggunakan proses-proses yang terus menerus dan berkesinambungan. Semua proses dilakukan dalam OJS, tidak boleh tidak ada proses ini dan harus di record dalam system jurnal.

Pengelolaan OJS sangat bisa dipelajari secara manual. Mengikuti langkah-langkah proses OJS akan sangat membantu proses akreditasi dan proses-proses selanjutnya.

Strategi pengelolaan Jurnal Imliah menuju Akreditasi ARJUNA

Materi ini disampaikan oleh Tutor RJI, Bapak Eko Wahyu Nur Sofianto.

Manajemen jurnal harus jelas dan sesuai. Lengkapi dulu isi jurnal, lalu baru maju ke akreditasi dan perlahan melengkapi kualitas dari jurnal tersebut. Mengikuti panduan dari Ristekdikti adalah langkah yang sangat direkomendasikan oleh tutor.

Belajar dari usaha untuk mencapai akreditasi jurnal, kita perlu menyadari bahwa 1) Kita bukan superman, kita memerlukan orang lain dan tim untuk bisa bekerja bersama, 2) mengerjakan jurnal itu dijadikan sebagai bagian dari kerja sampingan dan jangan dijadikan beban. Mengerjakan jurnal dan menjadikannya sebagai beban hanya akan membuat rasa tidak nyaman, tidak ada berkat di sana.

Akreditasi jurnal memberikan penilaian yang tinggi terhadap substansi artikel. Untuk itu, orang-orang yang bekerja dalam manajemen ejurnal harus bekerja keras untuk mengedepankan kualitas dibandingkan dengan yang lainnya. Lalu, yang terpenting adalah pengelola jurnal jangan sampai berhenti belajar untuk terus mengupayakan kualitas publikasi untuk para penikmati jurnal di luar sana.

Sebagai kesimpulan akhir, pengelolaan jurnal itu bukanlah hal yang gampang atau sembarangan. Institusi atau pengelola jurnal harus secara serius menginvestasikan waktu, tenaga dan dana untuk dapat membangun jurnal yang berkualitas. Selain itu, dukungan dari berbagai pihak seperti teman sejawat dan pimpinan adalah hal yang sangat penting dalam proses manajemen ejurnal menuju kepada kualitas publikasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *